Total Pageviews

Sunday, 4 September 2016

Cerpen- Siapa Aku Pada Kamu? (Part 2)



            AKU mengemaskan selendang yang melilit kepala sebelum kot yang kutanggalkan tadi kupakai semula. Hati dah membahang semacam. Dah tiga puluh minit aku menunggu, batang hidung pun aku tak nampak. Oh, hati, sabarlah!

            “Cik Lidiya Hamraa’?” Sapaan itu memaksa aku mengangkat pandangan memandang pintu bilik mesyuarat yang terbuka dari luar. Aku tersenyum sopan. Walhal, tengah tutup hati yang membahang.

            Sorry for being late. My boss will be here in about ten minutes time. Can I get you anything?” soal lelaki itu. Aku kira, itu setiausaha klienku. Aku masih senyum sebelum menggeleng. Tangan mengangkat cawan yang sudah kosong di atas meja. Heh, tak malulah kalau aku minta lagi segelas air.

            I’m sorry again, Miss Lidiya. My boss is always like that. He needs thousands of reminder to remember about something,” kata lelaki itu sebelum melangkah masuk ke dalam. Aku masih senyum saja. Aku bukannya kenal pun siapa bos dia. Tak perlu kut nak berkenalan bagai.

            I’m Harith, Mister Habib Al-Qadus’s secretary.” Tangan yang dihulur itu kupandang dengan kening yang terjongket. Terkejut, sebenarnya. Oh, oh! Imej yang aku bawa tidak cukupkah menampakkan bahawa aku seorang Muslimah? Allah...

            Aku sengih tak tahu nak cakap apa. Kalau aku tolak tangan dia guna fail di atas meja ni, boleh?

            I’m a Muslimah,” tuturku ringkas. Harap-harap dia faham. Harith senyum sebelum menarik tangannya dan mengusap-usap belakang kepalanya. Malu barangkali.

            Sorry, I guess you bertudung tapi salam lelaki...” kata Harith. Aku senyum saja. Tak kisah. Sebab memang banyak yang begitu sekarang ni. Jadi tak mustahil persepsi orang yang melihat akan menjadi begitu.

            I don’t wear hijab as it is a style. I wear hijab as for I am a Muslimah, lillahita’ala. I wear hijab to be hijabbed. I mean, hijab means something like tirai. Tirai or we can call it curtain. Curtain protects everything at the inner side of a house from being spoilt by the sunlight. Protects the paint on the wall in the house from fade... So do hijab. Hijabbed makes me feel safer than not being hijabbed. Hijab, with the permission of Allah, protects me, as a Muslimah. Hijab shows that I’m a Muslimah, so that people know the limits to socialize with a Muslimah. Do correct me if my understanding of the definition of hijab is wrong,” tuturku. Ehek... Aku tengok muka Harith macam nak kata aku bajet bagus. Aduhai... Mulut! Kenapa begitu lancang?

            I’ve been to the European countrys and Arabic too... But for your information, Miss Lidiya. I found out that some of the Muslimah there, are not hijabbed and their manners are way too better than our hijabbed Muslimah here. What say you?” balas Harith. Oh, Tuhan! Dia ajak aku berdebat, atau apa?

            Mister Harith, it’s not fair to judge the way people act, based on what they are wearing. Yes, I know, being hijabbed is about the outer and the inner side of a Muslimah. I mean, it is not all about what they wear but it is also about their manners, actions and behaviours. All of the inner side of them, must show that they’re a Muslimah. But, at this point, we must look back at our niat. What is our niat for being hijabbed? Because of the fashion? Because of the trend? Because you look even more beautiful when you’re hijabbed?When you have a proper niat which is because of Allah, you’ll lead yourself to a better you. By the way, Mister Harith. When Allah SWT chooses us to be an Islam, when we’re given the ni’mat of being an Islam, having Allah as our only God, Muhammad SAW as our prophet, al-Quran and hadith as our guide book to live, should we quest anymore? Can we simply choose and do the things that we want, and leave the things that we don’t want to do? Why are we being so arrogant towards Allah? While He gave us the ni’mat of being an Islam? It is not us who choose to be or not to be an Islam. It is Allah. Allah chooses us. When He chooses us to be an Islam, we must obey to His commands and His prohibitions. I’m sure that the Muslimah there have read the Quran. They have read the verse from surah an-Nur. Verse 31, saying that, “And tell the believing women to reduce (some) of their vision and guard their private parts and not expose their adornment except that which (necessarily) appears thereof and to wrap (a portion of) their head covers over their chests and not expose their adornment except to their husbands, their fathers, their husbands’ fathers, their sons, their husbands’ sons, their brothers, their brothers’ sons, their sisters’ sons, their women, that which their right hands possess, or those male attendants having no physical desire, or children who are not yet aware of the private aspects of women. And let them not stamp their feet to make known what they conceal of their adornment. And turn to Allah in repentance, all of you, O believers, that you might succeed.” We must realize and know that our Prophet told us that the learned (those who have learned a lot) are those who practice what they know. This means, that when we have a knowledge, we should act upon it because if we don’t, they won’t do us much good. One more thing, we shall not forget that our life is given by Allah and He can take it anytime. Anytime. So, should we just look and stare? How long that we want to wait to change? As we don’t ever know how long that we are going to live in this world anymore.” Aku berhenti seketika. Tak cukup nafas. Aku senyum sinikal tetapi bukanlah ditujukan buat Harith. Aku tak pandang pun dia. Aku sibuk renung fail atas meja.

            Hmmm... If you still want to look, stare and wait, you can. Do if it pleases you. But, still, you can do that only if you can change when you’re dead. Can you change when you’re dead? Stated in Quran, verse 185 of Surah Ali Imran, “Everyone shall taste death. And only on the Day of Resurrection shall you be paid your wages in full. And whoever is removed away from the Fire and admitted to Paradise, he indeed is successful. The life of this world is only the enjoyment of deception (a deceiving thing).” Hope that clears you up!” tutupku. Huh, senak perut. Habis keluar segala apa yang aku ingat. Hasil abang ajak aku pergi kelas agama setiap minggu di London. Alhamdulillah.

            Aku mengangkat pandangan, memandang Harith. Pandangannya sedang tekun mengarah kepadaku. Saat itu, aku terdengar suara berdehem. Pantas aku mengalih pandang memandang ke arah pintu yang terbuka itu. Eh? Dah lama ke lelaki itu berdiri di situ. Dia kelihatan sedang menarik-narik kepala tali lehernya. Kulitnya yang agak putih tampak kemerah-merahan. Aku hanya memerhatikan tangannya yang memegang kepala tali lehernya. Tetapi ternampak halkumnya bergerak-gerak. Apa kena ni?

            Errr... Harith, is that Mister Habib?” soalku teragak-agak kepada Harith. Pandangan kuatur lambat-lambat ke arahnya. Namun Harith tidak menjawab. Masih memandang aku.

            Aku memetik jari di hadapan wajahnya, untuk menyedarkannya. Tiga kali memetik, barulah lelaki itu tersedar.

            Did you say something?” soal Harith. Aku terdiam.

            I tanya...”

            Yes, I’m Habib Al-Qadus. So, you’re Miss Lidiya Hamraa’?” soal lelaki yang duduk di hujung meja sana. Aku tarik senyum.

            Yes, I am. Nice to meet you, Mister Ha...

            Call me Qadus,” potong lelaki itu. Aku masih tersenyum.

            Right, Mister Qadus,” ujarku.

            So can we start our discussion? And can you please, move forward?” ujar Encik Habib Al-Qadus. Huih, nama... Tergeliat lidah. Nama sajalah yang ala-ala arab. Muka tu... Entah, aku tak nampak lagi. Duduk jauh. Tak jelas.

            Why not?” balasku seraya bangkit daripada dudukku dan mengutip fail-fail di atas meja sebelum bergerak lebih dekat dengan Encik Habib Al-Qadus. Semakin dekat aku melangkah, semakin jelas wajahnya mencuri ruang di mataku. Entah mengapa, nafas terasa sesak. Oh, Allah... Apakah yang cuba Engkau tunjukkan?

            Terketar-ketar tangan meletakkan fail di atas meja. Aku meraup wajah yang terasa hangat. Tuhan! Mengapa saat ini baru Engkau tunjukkan? Mengapa?

            Harith, out.” Mudah bicaranya dan Harith terus berjalan.

            “Tapi saya tak...” Baru sahaja ingin menghalang Harith daripada keluar, lelaki itu sudah terlebih dahulu keluar daripada ruang mesyuarat ini. Aku terdiam.

            Any problem, Cik Lidiya?” soal Encik Habib Al-Qadus. Aku diam lagi. Perlahan-lahan kepala kugeleng. Persoalan utama, dia tidak kenal aku? Lid, dua tahun, Lid. Dua tahun kau jadi orang bodoh sebab dia. Dua tahun... Dia tak ingat kau langsung! Bodohnya kau!

            Perbincangan itu berlangsung dengan hati yang tidak tenteram. Perlahan-lahan aku melafaz zikir. Perlahan-lahan hatiku mulai tenang. Saat ini teringat. Hari ini, 1 Julai. MasyaAllah... Semua ini terjadi dengan izin Allah.



            “AYAH, boleh Lid minta sesuatu?” pintaku lembut. Ayah yang sedang duduk bersandar di hadapanku, kupandang. Ayah menjongket kening mendengar bicaraku. Baru sahaja hendak meluahkan rasa hati, tiba-tiba ayah menepuk meja.

            “Oh, ya! Lid, ayah hampir lupa tentang ini. Encik Habib from The Nocturnal just ask me to take you out for lunch,” kata ayah. Mataku membulat sepantas kilat. Apa?

            And what did you say?!” soalku laju dengan nada suara yang sudah naik seoktaf. Ayah tertawa melihat keletahku.

            I said yes, of course. He will arrive soon,” jawab ayah. Mataku membulat sekali lagi. Allah... Tak boleh begini. Lidiya Hamraa’! Apa yang baru kau kata? Tak boleh? Lidiya, tiga puluh minit lagi, Lidiya. Tiga puluh minit sebelum masa makan tengah hari. Kau mampu mengelak? Allah, bantulah aku... Aku masih belum kuat.

            Lidiya, dulu ketika Dia tidak beri, engkau yang mahu. Tetapi kini apabila Dia beri, engkau menolak? Sesungguhnya bukan kau yang tahu apa yang terbaik untuk kau. Allah yang tahu apa yang terbaik untuk kau.

            I can’t, ayah.” Sepantas itu juga aku bangun daripada dudukku. Panggilan ayah tidak aku hiraukan. Aku berjalan keluar menuju ke bilikku dan segera mencapai beg tangan sebelum berlalu keluar.
 
            “Natalie, I keluar. Cancel all the appoinments for today and bring them to another date. Please.” Biarlah ayah nak pecat aku pun kerana tingkah sesuka hatiku ini. Aku tidak peduli. Yang penting, aku tidak mahu berhadapan dengan Habib. Aku perlu berusaha untuk mengelak.


            SAAT kaki memijak lantai kaki lima, pandanganku terpaku pada sesusuk tubuh yang sedang melangkah ke arahku. Atau lebih tepat, ke arah bangunan tempat syarikat kami bertapak. Aku membuang pandang ke kanan sebelum segera aku berlalu dari situ.

            Miss Lidiya!” Panggilan itu tidak aku endahkan.

            Miss Lidiya Hamraa’!” Huh! Tak fasal-fasal semua orang yang lalu-lalang tahu nama aku!

            Miss Lidiya Hamraa’, could you just stop and look at me?!” Suara itu semakin meninggi dan terdengar semakin mendekat. Bertambah laju aku melangkah. Tanpa kusangka, tangan kanan terasa direntap kuat sehingga menyebabkan tubuhku melayang dan aku trauma! Tak fasal-fasal aku terjerit kecil setelah memejamkan mata sehingga tiba-tiba tubuhku sudah terhenti daripada melayang. Air mata sudah mengalir. Takut, benar aku takut terjatuh lagi.

            I’m sorry. I won’t let it happen again. I’m really really sorry. Did that scared you?” Terdengar dekat suara yang berbisik itu, aku tersentak. Mata yang terpejam terus kubuka. Baru tersedar diri sedang dipeluk maha hebat. Allah! Hinanya aku!

            Let go of me!” jeritku kuat. Aku tidak peduli lagi dengan orang di sekeliling. Asal aku tidak disentuh yang tidak halal, aku hidup.

            Okay, okay!” Tubuhku terus terlepas bebas. Dia kelihatan sedang mengangkat kedua-dua belah tangannya. Aku terdiam memerhati wajahnya yang berkaca mata hitam itu. Semerta, ingatanku bertebaran mengingati peristiwa di lapangan terbang dahulu. Dan ayatnya tadi menampar gegendang telinga.

            I won’t let it happen again.

            Mataku terus membulat. Sisa air mata kukesat bersih.

            You... You yang tarik I at the airport! You yang cuba nak bunuh I!” tuduhku. Bukan, bukan menuduh. Memang betul! Setelah dia berkaca mata hitam, barulah aku kenal dirinya.

            Aku sekadar memerhati dia mengalihkan kaca mata hitam daripada wajahnya. Dia tertunduk seketika merenung lantai sebelum memandang aku.

            Yes, I am. I am that person. And because of that, I want to take you out for lunch. I thought that I am going to say sorry. Miss Lidiya, I’m really sorry for what have happened. I knew. I knew that you can’t move due to the incident and you’re admitted at the hospital. I’ve sent you to the best hospital and the best doctor I could. Really, I’m sorry Miss Lidiya,” ucapnya. Nampak tulus. Dan aku tahu, memang dia tulus. Seperti itulah dia meminta maaf dahulu jika dia berbuat salah kepadaku. Aku diam seketika, mencari ayat terbaik.

            “Saya maafkan. Tapi saya tak mahu berjumpa dengan awak lagi. Saya tak mahu berurusan dengan awak lagi. Saya akan serahkan urusan syarikat kita kepada orang kepercayaan saya. Awak akan berurusan dengan dia nanti. Tolong, jangan tegur saya kalau kita terserempak walau cuma seketika. Pretend that we don’t know each other,” ujarku tegas. Ya, aku nekad untuk tidak berjumpa dengannya lagi. Tiada gunanya kalau kami berjumpa pun. Bukannya dia kenal siapa aku. Kalaupun mungkin aku sudah bertudung dan berpakaian sopan dan longgar, mustahil dia tidak kenal. Muka aku masih sama. Cuma apa yang berbeza, aku sudah menutup auratku.

            But why? What is the reason?” balasnya. Aku diam seketika.

            “Sebab saya tak selesa. Lagipun Encik Qadus dah ada kekasih. Baik Encik Qadus jaga hati dia elok-elok. Saya begitu bijak menerbitkan rasa cemburu dalam diri seorang perempuan. Jadi, saya harap Encik Qadus bersetuju dengan apa yang saya minta tadi,” tuturku. Masakan aku tidak ingat perbualannya dengan kekasihnya dahulu? Ya, yang bajet romantik itu.

            Aku memandang wajahnya. Pandangannya dibuang ke sisi kanannya. Matanya kelihatan mengecil. Barangkali sedang menahan silau. Aku lihat halkumnya bergerak-gerak. Seketika, tangan kirinya diangkat, memicit-micit kepala dan dahinya.

            It hurts...” Dia berdesis perlahan. Aku mengerut dahi. Apa yang...

            “Encik Qadus!” Aku terjerit perlahan melihat dia rebah. Huh? Apa yang aku nak buat?

            “Encik, Encik Qadus! Saya... Saya kena buat apa ni?” Sengal tak soalan aku? Okey, sengal. Kepalanya terus kupangku. Sudahlah dia tidak menyedarkan dirinya. Peluh dingin terbit pada dahi. Pandangan kuangkat, merenung keadaan sekeliling. Boleh pula saat itu kuterpandangkan Harith.

            “Harith!” jeritku sekuat mungkin. Alhamdulillah, lelaki itu berpaling memandangku. Laju sahaja tangan kuangkat menggamitnya supaya mendekatiku.

            Harith, your boss... He passed out!” jelasku pada Harith yang sudah tiba di hadapanku. Harith mengangguk faham sebelum tubuh itu dia cempung. Aku sudah berdiri di sebelahnya.

            Where’s your car?

            My car?” soalku bingung.

            “Yalah, takkan kereta I pulak? Kereta I dekat ofis! Cepatlah, you ingat Habib ni seringan kapas ke, Lidiya?” bidas Harith dengan muka yang mula memerah. Aku mulai sedar. Langkah kuatur mendapatkan keretaku. Alat penggera kutekan. Pintu di bahagian belakang kubuka. Harith meletakkan tubuh Qadus di situ.    

            I’ll drive. You duduk belakang. Jaga dia,” ujarnya dengan tangan yang ditadah. Aku meletakkan kunci kereta di atas telapak tangannya sebelum masuk ke dalam kereta, di bahagian belakang. Menurut arahan Harith. Tak lama menunggu, kereta terus dipandu laju. Ketika Harith membelok...

            “Harith! Drive carefully!” jeritku. Aku bukannya risau dengan pemanduan Harith. Tapi aku risau dengan tubuh Qadus yang kepalanya dah selamat mendarat di atas pahaku. Menggigil tubuhku. Peluh dingin sudah membasahi wajah yang terasa sejuk. Barangkali wajahku sudah berubah pucat tidak berdarah kini. Bibir tidak henti-henti menutur istighfar dan ta’awwuz. Allah... Peristiwa itu menjengah kotak fikiranku. Ya Allah! Tolong Lidiya! Semerta, pandangan terasa semakin kelabu dan akhirnya gelap.



            AKU membuka mata yang terpejam. Fikiran ligat berfikir mengenai apa yang telah berlaku. Aku bingkas bangun daripada pembaringanku. Tangan meraba kepala. Tudung. Di mana tudungku?

           Kepala sudah berpusing memerhati sekitar bilik mencari tudungku. Tapi tiada.

           Serasa ingin menangis sahaja ketika ini apatah lagi saat aku berpaling ke sisi kanan tadi, aku terpandangkan Habib yang masih lagi belum terjaga. Ya Allah, bermimpikah aku?

           Telinga menangkap derap langkah seseorang mendekati. Aku jadi semakin kalut. Air mata sudah menitis. Allah, di manalah tudungku? Siapa yang buka? Mengapa dibuka? Aku tidak izinkan! Tidak boleh begini!

           Mata terus kuangkat memandang pintu yang terbuka dari luar. Aku menghela nafas lega. Ayah. Ayah yang datang. Tapi bagaimana jika nanti Habib tersedar? Bagaimana? Ayah... Lindungilah anak gadismu ini! Allah, lindungilah hambaMu ini.

           “Lid...” Ayah menutur perlahan.

           “Ayah, tudung Lid mana?” sergahku. Ayah kelihatan agak terkejut mendengar bicaraku.

           “Ayah tak...” Kata-kata ayah tidak sempat habis apabila pintu bilik dibuka lagi dari luar. Aku kalut.

           Miss, tudung awak ada pada kami. Your clothes are all wet. Awak berpeluh teruk. You’re on trauma,” jelas doktor perempuan muda yang sedang melangkah masuk. Kelihatan tangannya memegang sehelai tudung. Aku tidak tahu milik siapa. Dia berjalan mendekatiku seraya menyerahkan tudung itu kepadaku.

            Take it, for you,” kata doktor itu. Aku senyum senang. Tudung ekspress itu aku capai sebelum kusarungkan pada kepala. Alhamdulillah, cukup selesa dan cukup labuh.

            Thank you,” ucapku. Doktor wanita itu senyum seraya mengangguk.

            Can I ask you something?” soal doktor yang bertanda nama Khalisah itu. Aku menganggukkan kepala.

            Have you been into any incident that caused you trauma?” soal Doktor Khalisah. Aku terdiam. Aku jeling wajah ayah seketika. Ayah tidak tahu. Aku tidak pernah cerita. Kisah bagaimana aku bertemu abang, aku ubah seenak rasa.

            “Saya pernah... Hampir... Pernah hampir... Dirogol,” tuturku teragak-agak. Aku pandang ayah. Mata ayah membulat merenungku. Aku menunduk, menahan rasa bersalah.

            I see. That explains why you are so scared that Habib accidently laid his head down on your legs,” kata Doktor Khalisah. Aku senyum kecil kemudian mengangguk.

            Have you been to London, Lidiya?” soal Doktor Khalisah tiba-tiba. Aku tersenyum kemudian mengerut dahi sedikit mendengar soalannya itu.

            “Kenapa doktor tanya?” soalku. Doktor Khalisah tersenyum. Senyum yang seakan-akan menyembunyikan sesuatu.

            “Sebab kalau awak belum pergi, saya ingat nak suruh awak pergi,” kata Doktor Lidiya. Aku tertawa mendengarnya.

            I have been there. And that inciddent happened there. Adalah lebih kurang tujuh tahun lebih saya duduk situ. Last few months baru saya balik Malaysia,” ceritaku. Doktor Khalisah tersenyum dan mengangguk-angguk kecil. Dia menunduk merenung kakinya.

            That explains everything...” Aku mendengar desis perlahan suara itu berbicara.

            Explains what?” soalku. Doktor Khalisah mengangkat pandangannya sebelum perlahan-lahan menggelengkan kepalanya. Bibirnya mengukir senyum tawar.

            “Saya keluar dulu. Nanti saya masuk semula, check on your condition,” kata Doktor Khalisah sebelum dia berlalu keluar. Aku menahan rasa janggal di dalam jiwa. Kenapa dengan Doktor Khalisah?

            Why didn’t you tell ayah that you’re almost being raped?” Soalan ayah menerjah gegendang telingaku. Aku menelan liur kesat. Huh, kantoi.

 

No comments:

Post a Comment