Total Pageviews

Friday, 19 May 2017

Cerpen- Jujurlah Mencintai Aku (Part 5)

Nota kepala: Assalamualaikum, :). As promised, part 5 hari Jumaat. Selamat membaca, :).



            “La ila ha illallah. La ila ha illallah. La ila ha illallah muhamma durrasulullah...” Zikir itu aku alunkan dengan nada yang lembut, dengan harapan agar Hazzar bisa lena dengan mudah pada malam ini.

            Sepuluh minit mengulang tutur bait-bait zikir yang sama, sampai tekak aku terasa kering, dan mata aku hampir terpejam, akhirnya aku dapat mendengar dengkuran halus yang datang daripada Hazzar. Apabila dia dah berdengkur, tandanya dia sudah lama terlelap dan kini tidurnya semakin lena. Macam mana aku tahu? Sudah tentulah sebab aku selalu perhati Hazzar tidur.

            Aku menghela nafas dalam seraya aku terus menghanyutkan diri aku yang sememangnya sudah separa hanyut ke dalam lena.


            BANGUN sahaja daripada tidur, terus aku tersedar bahawasanya hari sudah siang. Lebih kurang pukul lapan pagi mungkin. Ni kalau bukan sebab aku tak boleh solat ni, dah lama dah menyesal tak sudah sebab tak bangun solat subuh. Yang aku tidur mati sangat ni pun kenapa? Walhal aku masuk tidur pukul sepuluh setengah kut malam semalam.

            Segera aku mengiringkan tubuh ke sebelah kanan.

            Alangkah terkejutnya aku apabila sedikit sahaja lagi bibir aku akan berlaga dengan hidung Hazzar. Alamatnya menjeritlah aku lengkap dengan aksi gimnastik bergolek jatuh dari katil lagi.

            “Awww!” Aku gosok dahi yang terhantuk dengan meja lampu tidur. Sakitnya ya Allah! Bergegar otak aku. Rongga hidung terasa lain macam sahaja. Jantung seolah-olah sudah hilang rentak degup asalnya.

            “Aduhhh. Aduhhh...” Tak sudah-sudah aku mengaduh sambil bangun daripada pembaringanku. Belakang tubuh aku sandarkan pada rangka katil.

            Aku toleh ke belakang. Mata aku dan Hazzar berpapasan.

            “Apa pandang-pandang?” Aku hulur soalan dengan nada untuk mencari gaduh.

            Hazzar senyum dengan muka baru bangun tidur dia tu, “Sakit ke?”

            “Tanya pulak.” Aku kalih semula muka pandang depan. Rambut yang berserabai akibat gimnastik tadi aku ambil semuanya dan aku bawa ke sebelah kanan bahuku.

            Aku meraba-raba dahi. Satu benjolan kecil sudah timbul.

            Baru sahaja ingin berdecit dek kecewa dengan benjolan yang terhasil itu, tiba-tiba sahaja Hazzar melabuhkan duduknya di hadapan aku. Ada sehelai kain seperti sapu tangan yang sedang dipegangnya.

           Hazzar kemudiannya mengikat kain itu membentuk satu jemput lantas dia bawa kain itu ke mulutnya dan menghembuskan nafasnya melalui mulutnya beberapa kali. Aku faham apa yang dia ingin lakukan.

           Sambil menghembuskan nafasnya, tangan kirinya bergerak menyebak anak rambut aku yang menutupi dahi. Dan entah dipukau oleh apa, aku tidak menghalang langsung dia menyentuh aku dan aku bagaikan terlupa terus tentang prinsip aku untuk tidak membuka auratku di hadapannya.

           “Bismillahirrahmanirrahim...”

            Hazzar memulakan proses menuam. Aku pula menyerahkan dahi aku secara rela. Lega sedikit rasanya kesakitan yang aku rasa sejak tadi.

            Mata sekadar terpaku pada jari-jemari sendiri. Tak berani nak pandang wajah Hazzar. Manalah pernah aku berada dalam posisi sedekat ini dengan dia?

            “Terkejut sangat ke?”

            “Huh?” Aku menengadah.

            Mata Hazzar bergerak memandang aku sekilas kemudian dia tersenyum, “Terkejut sangat ke sampai jatuh katil siap terhantuk lagi dekat meja tu?”

            Aku menjeling wajahnya lantas menutur, “Tanya pula.”

            Malas aku hendak beri jawapan. Dah ada sebiji benjolan di dahi pun, masih lagi Hazzar nak tanya sama ada aku terkejut atau tidak. Kalau aku tidak terkejut, tak ada maknanyalah benjolan itu wujud.

            “Mana Huzair?” Entah ke manalah penghadang aku yang seorang itu menghilang. Elok-elok aku tidur dengan anak, tak fasal-fasal tinggal papa dia aje sebelah aku. Sampai hati Huzair khianati aku macam ni.

            “Dekat bawah.”

            “Dia dah makan ke?”

            “Dah.”

            “Huh? Siapa masak?” soalku kebingungan.

            “Yang dekat depan mata Zaira nilah. Nak tunggu Puan Adiva Zaira bangun macam tak ada tanda-tanda nak bangun aje...”

            “Ya ke? Muka macam baru bangun tidur aje,” desisku.

            “Ya, tak percaya pergilah turun bawah, makan. Muka macam baru bangun tidur sebab memang saya baru bangun pun. Lepas masak tadi saya baring semula. Entah macam mana terlelap.”

            “Memanglah terlelap. Tidur sir tu asyik tak lena saja seminggu ni kan...” tuturku perlahan.

            “Zaira?”Pergerakan tangan Hazzar sudah terhenti.

            Aku memandang wajah Hazzar.

            Thank you.

            Kening aku berkerut. Untuk apa Hazzar berterima kasih? Aku ada berjasa apa-apa ke pada dia?

            “Untuk?”

            For loving Huzair for who he is. For giving all your love that you have to him, even though he is not even related to you.

            “Tak adil rasanya sekiranya saya menghukum Huzair kerana saya kesal dengan tindakan awak. Huzair layak disayangi, layak dikasihi. Sampai bila-bila pun saya akan jaga dia seperti darah daging saya sendiri.”

            “Zaira terlalu muda untuk menjadi seorang ibu. Huzair tu bukanlah sesiapa pun dalam hidup Zaira. Tak ada pertalian darah langsung. Kenapa Zaira sanggup jaga dia seperti anak Zaira sendiri?” soal Hazzar.

            Because our hearts are so much related, so close. I know what it’s like to suddenly wake up, knowing that you have lost both of your parents and at that exact moment, you knew, you just knew that you have no one who you could turn to, who will accept you wholely, who will love you sincerely, who will care for you forever, who will ask about your pain and heal the pain together with you. You have lost them suddenly, when you are not prepared for it. Then there’s people coming in and out of your life. You knew, you just knew that those who leave you are the bad ones, the ones who never love you. And you just hoped that those who are coming in your life, they are doing that with their own heart. Because they want to love you. Because they want to take a good care of you. And they could be the people whom you could always turn to. I’m just lucky because your late father loves me, takes a good care of me... But it seems that the situation is not the same for Huzair. His entire family hate him. Like he is the one to be blame because of his parents fault. It just aches me, to see him being dump like that. He needs to be loved. And what’s wrong if the love is from a stranger who sincerely love him? What matter is, he is loved for who he is.

            I hope he will grow up fine with us,” kata Hazzar.

            “Hazzar?” ujarku.

            Hazzar menjongket keningnya.

            Don’t you want to save this marriage?” tanyaku. Entah mengapa tiba-tiba aku boleh bertanya soalan sebegitu.

            W-what do you mean?” Hazzar nampaknya benar-benar terkejut dengan soalan aku tadi.

            Aku menarik nafas dalam, “We’ve never tried.

            Try what?

            To love each other.

            Hazzar tertunduk.

            We keep on talking about divorce, instead of talking about love. We keep on keeping things and feelings to ourselves instead of sharing. We keep on doing our own things separately instead of doing things together. We’re just too stupid because it’s actually we, who didn’t put our effort into making this marriage work. And yet, we’re blaming this not-working-marriage as a reason for a divorce,” tuturku.

            Hazzar tersenyum pudar, “I’ve never thought of divorce, Zaira. I’ve never intended to marry you just to divorce you. It’s just you who keep saying that this marriage is not working and the only way to end it is by divorce. And you keep repeating that same statement for the whole six years, that I just thought that you had never want me as your husband, never want me who will love you till my last breath. That’s the reason why we never talk about love, we never share our feelings, we never do things together. Your statement stops me from doing anything. If divorce is the only answer for this marriage, then I don’t want my heart to bleed so much. So I build a wall between us so that my love towards you didn’t grow and when you’ll be leaving me someday, my heart will not break into tiny pieces that is hard to be combined again...

            Terkesima aku mendengar bicara Hazzar. Terkebil-kebil aku memandang wajahnya, “Are you saying that you actually...” Aku mati kata.

            Hazzar mengangguk, “From a long time ago. Can’t you see it?

            Wait, no. No way.” Susah benar aku hendak percaya. 

            That’s why you never saw it. Because you never want to find it. And if it happens that you found it, you will not want to accept the truth.

            Other truth? Yes, I can accept it. But this truth... How can I believe you when all you did to me since I was a little kid was just making me frustated over you? You’re such an annoying cousin back then!” kataku.

            You’re annoyed because I care so much about you?

            “Huh?”

            Don’t you realize that all the things that I did to you back then and until now are just because I care about you?

            Aku terbungkam. Tidak tahu apa lagi yang patut aku katakan.

            You really love him, right?

            Huh? Who?

            “Fayyadh.”

            What? No!” Bersungguh-sungguh aku geleng kepala.

            But it seems so,” kata Hazzar.

            It seems so, doesn’t mean it really so. Saya anggap dia macam kawan saja sebab saya sedar status saya sebagai isteri. Tapi saya tak tahulah Fayyadh anggap saya ni apa. Dia asyik cakap yang dia sayangkan saya. Tapi saya tak rasa semua tu. Saya tak rasa apa yang dia rasa. It’s not love when you’re happy seeing him with other girls and you’re realived that at least, he has someone else so that he is not so broken when you have to leave.

            So if you’re not my wife, things will go smooth between you and Fayyadh, is it?

            Aku menggeleng, “I’ve been considering to tell Fayyadh that I am your wife the night that you gave the ring back to me so that he can move on and forget his feelings towards me. But things about Ixora and Huzair came up and I changed my mind.

            About that...” Hazzar berjeda seketika, “I marry her not because I love her.

            I can doubt that. I’ve seen you with her six years ago. I’ve seen you with other girls too,” kataku.

            Yes, Ixora and I are close. Have I ever told you that Ixora is my childhood friend?

            Aku menggeleng.

            I met her at the orphanage when we had this charity event. Arwah ayah was one of the funder. We were about eight at that time.

            Wow, I’m not even born yet.

            Hazzar tersenyum.

            Yeah, I’ve known her longer than I know you. That’s why we’re so close. Like siblings, maybe. And when it goes to siblings, you need to help them when they’re in need, right? 

            Aku mengangguk.

            That’s why I decided to marry her. She was facing this difficulties with her mother in law. You knew that Ixora and Hafiz get married without Hafiz’s mother’s blessing, right?         Aku angguk lagi.

            So when Hafiz died due to cancer, his mother can’t accept his death. Ixora is blamed as the cause of Hafiz’s death. Her life is really miserable because she had to face threat from her mother in law and at the same time taking care of Huzair just by herself. She was hospitalized a few times because of serious injuries. I just don’t understand why her mother in law really wants to see Ixora dies and I’m not suprised if Ixora’s car crash that leads to Ixora’s death is also related to her.

            So, you marry Ixora to protect her?

            Yes, being her husband is the only solid reason to protect her, to make sure that her ex-mother in law does not bother her anymore.

            So does it work?

            Ya, it was good. She is safe and I’m glad that Huzair could grow up well.

            Then, why the divorce?” soalku dengan kening yang berkerut. Jika Hazzar mengahwini Ixora untuk melindungi Ixora, jadi mengapa mereka bercerai?

            Because we just knew that we’re hurting ourselves in that marriage. We don’t love each other like how husband and wife should. We just care about each other like how siblings should. We know that the marriage will not benefit both parties in any way. And we can’t pretend to be a wonderful parents to Huzair forever...

            For two years, you’ve never fallen in love with her? I mean, well, both of you are in the same house, for God’s sake!

            How can I fall in love when my heart is not with me? And I don’t go and simply love people because of their appearence and those outer stuffs,” kata Hazzar.

            Does she knows about me?

            Yes.

            Ohhh, maknanya semasa arwah Ixora datang ke rumah tempoh hari, dia sebenarnya sudah tahulah mengapa aku berada di rumah Hazzar. Pandai betul arwah Ixora berlakon.

            Then?” soalku.

            She asked me not to hurt you, your feelings. She kept forcing me to tell you the truth and stuffs, but it just me who does not want to do it.

            Why keep it away from me? I would have understand if you tell me earlier.

            Because I don’t want you to use that as a point for a divorce.       

            Aku mencebik, “Kalau awak bagitahu cerita sebenarnya, mestilah saya akan faham.

            Hazzar mengerling wajah aku, “Dan saya akan memerlukan masa seminggu hanya untuk menjelaskan cerita yang panjangnya hanya tiga minit. Dalam masa seminggu tu, awak mesti dah paksa saya ceraikan awak.”

            I’m sorry,” tuturku bernada kesal.

            I’m sorry too.

            So are we going to save this marriage?” tanyaku.

            Well, I love you.” Tenang sahaja Hazzar meluah.

            I don’t.” Laju aku menjawab.

            Ah, that’s bad. But you can try, right?

            Aku menjongket kening, “Maybe.

            Come on, Huzair needs his parents.

            Are you really okay to have a 23 years old girl as your wife?” dugaku.

            Kening Hazzar berkerut, “Why? Am I that old for you? I’m just 11 years older. Not too old, huh?

            You should have three kids by now, do you know that? And I am supposed to be enjoying my flawless period now, without kids.

            What can I do? My wife is so far away. How can I have my kid without her?

            You’re surely not going to have your kid with me.” Awal-awal aku memberi peringatan. Memang taklah aku nak ada anak. Aku muda lagi kut.

            What?” Hazzar seperti tidak berpuas hati.

            I’m 23, man. Chill.” Selamba aku menjawab.

            I’ve been a virgin for 34 years, girl. How can I chill?

            Oh my God, what is this?” Aku terus bangkit daripada dudukku.

            What?” Hazzar menengadah memandang aku.

            Why are we even talking about something unappropriate like this? I’m too young for this.” Aku capai tuala pada rak penyidai kemudian terus sahaja aku masuk ke dalam bilik air.

            Hazzar ketawa, “You’re my wife, Zaira. You’re my wife.

            Wajah pada cermin aku pandang lantas aku menampar pipi yang melakukan jenayah besar terhadap tuannya. Kenapa kau senyum ni, Zaira? Astaghfirullahalazim. Jampi apa Hazzar letak masa tuam dahi aku tadi?


            AKU tarik sengih setiap kali aku terpandang akan wajah cikgu-cikgu yang pernah mengajar aku dulu. Serba salah betul aku hendak menatap wajah mereka. Haish, kalau bukan sebab kasihankan Huzair, tak ada maknanyalah aku akan bersetuju dengan permintaan Hazzar ini.

            “Hmmm, tak sangka betul cikgu yang awak ni isteri Hazzar,” ujar Cikgu Mastura, cikgu Bahasa Melayu aku dulu.

            “Dah siap ada anak lagi. Macam mana awak sambung belajar dengan nak mengandung lagi, nak besarkan anak lagi. Pula tu awak di Dublin, Hazzar di Malaysia,” tokok Cikgu Mastura lagi.

            “Saya tak adalah mengandung pun, cikgu. Ni anak angkat kami,” balasku. Dah berapa ramai dah cikgu yang ingat Huzair ni anak kandung aku dengan Hazzar. Apa muka Huzair ada lebih kurang muka kami ke apa?

            “Laaa, ya ke? Ingatkan anak kamu berdua. Nama Huzair tu ingatkan gabung nama Hazzar dengan nama Zaira. Manja betul ya dia dengan kamu berdua. Kalau kamu tak bagitahu ni, memang cikgu tak tahu pun yang Huzair anak angkat kamu.”

            “Tapi anak angkat pun tetap kami sayang macam anak kandung juga, cikgu. Kami anggap Huzair macam anak kami juga,” kataku.

            “Yalah, baguslah macam tu. Baru kali ni Hazzar nak join aktiviti family day ni. Selalunya dia tak nak join. Tak sedap hati agaknya berjalan tak bawa isteri sekali,” kata Cikgu Mastura. Aku sekadar tersengih sahaja.

            “Iva ingat mula-mula tak nak pergi, cikgu. Sebab banyak benda dekat rumah tu tak settle lagi. Tapi bila fikir fasal Huzair ni, naklah juga bawa dia main pantai. Kesian dia dah lama tak berjalan,” beritahuku.

            “Macam mana rasanya jadi ibu ekspress?” tanya Cikgu Mastura.     

            Aku ketawa, “Mula-mula tu susahlah sikit. Yalah, saya pun bukannya suri rumah sepenuh masa. Tapi sekarang dah makin okey, alhamdulillah.”

            “Maknanya kamu ni masa ambil SPM dulu dah kahwin dahlah dengan Hazzar ya?” soal Cikgu Mastura lagi.

            “Haah. Dah enam tahun tiga bulan macam tu. Lama dah.”

            “Memang menjadi betullah kamu berdua rahsiakan. Kami memang tak tahu langsung yang Cikgu Hazzar dah kahwin. Terkejut betul tadi bila nampak dia bawa isteri dengan anak.”

            “Haaa, itulah cikgu. Memang semua cikgu terkejut tengok saya datang dengan Sir Hazzar tadi.” Mustahil aku boleh lupa bagaimana tercengangnya mulut semua cikgu yang mengenali aku apabila Hazzar memperkenalkan aku sebagai isterinya tadi.

            “Kami ni dekat sekolah tu punyalah selalu kenankan dia dengan cikgu-cikgu praktikal atau cikgu-cikgu yang baru posting sebab tak tahu yang dia dah kahwin. Patutlah Cikgu Hazzar tu tak menunjukkan minat pun dekat mana-mana cikgu baru. Dah ada yang curi hati dia rupa-rupanya.”

            Aku tersengih sahaja melayan bicara Cikgu Mastura. Cikgu Mastura memang banyak bercakap orangnya. Sudah semula jadinya dia ditarbiah begitu, takkanlah tiba-tiba aku nak suruh dia berhenti bercakap pula?

            “Ummi!” Tertoleh kepala aku memandang Huzair yang sedang berlari mendapatkan aku. Bersusah payah dia berlari di atas pasir pantai begitu.

            “Ummi, jomlah tengok!” Huzair sudah memaut tangan aku.

            “Tengok apa ni?”

            “Tengok papa. Papa main bola.”

            “Papa main bola, Huzair main apa ni? Main pasir?” Aku menepuk-nepuk seluarnya yang melekat dengan pasir. Huzair tersengih merenung aku.

            “Jomlah, ummi. Jomlah.” Huzair sudah mula menarik tangan aku.

            “Yalah, yalah.” Aku bangkit daripada dudukku.

            “Cikgu, saya minta diri ya?” pintaku kepada Cikgu Mastura.

            Cikgu Mastura tersenyum seraya mengangguk.

            Aku membontoti langkah Huzair. Gigih dia membawa aku ke dalam kawasan resort dan segera kami mengambil tempat duduk apabila kami sudah tiba di gelanggang.

            “Tu papa tu!” Beria-ia Huzair menunjuk kepada aku di mana Hazzar sedang berada kini.

            “Ya, papa tu.”

            “Papa main apa tu, ummi?”

            “Bola keranjang.”

            “Ohhh...” Huzair mengangguk-angguk dengan mata yang masih khusyuk memerhati ke arah gelanggang.

            Oh, look! They’re taking the ball!” kata Huzair. Dia menoleh memandang aku, barangkali dia menginginkan aku melihat ke arah itu juga.

            Yes, they need to take the ball to score it so that they can win,” ujarku supaya Huzair lebih jelas.

            Papa! Take the ball, papa! Take the ball!” Huzair sudah melaung. Beberapa pasang mata yang sedari tadi sedang menonton perlawanan kini sedang memandang ke arah kami. Aku tersengih sahaja kepada mereka. Harap faham jiwa wanita yang ada anak kecil.

            Seronok benar Huzair memerhatikan papanya.

            Be careful, Huzair.” Aku mencapai lengan Huzair. Bimbang benar kalau dia terjatuh dari tangga ini dek terlalu teruja.

            Look, ummi, look! Papa has the ball!

            Ya, papa has the ball.

            Go papa, go!” Huzair terus-terusan memberi sokongan.

            Yeay! Papa scored!” Huzair menepuk tangan dengan gembira. Aku tersenyum melihat kegembiraan yang terpancar pada wajah Huzair lantas aku mengalih pandang ke arah Hazzar. Dia sedang tersenyum dan melambai ke arah kami kini.

            “Papa!” Huzair membalas lambaian itu. Aku pula setakat tersenyum sahaja.

            “Ummi... Bye papa tu!” Huzair menarik tangan aku, menggesa aku untuk turut melambai. Haaa, macam nilah kalau dah ada anak. Maka tak peliklah kenapa hubungan aku dengan Hazzar semakin mesra dari hari ke hari. Semuanya kerana melayan sikap Huzair. Pantang nampak ummi dan papa dia berjalan tak pegang tangan, mesti sahaja nak menegur. Pantang nampak ummi dia lupa nak salam papa dia sebelum papa dia pergi kerja, mesti ummi dia kena bebel dengan mulut kecil dia tu. Apalah nasib dapat anak banyak cakap macam Huzair ni.

            Aku menarik senyum dan mengangguk kecil pada Teacher Zarina, cikgu Bahasa Inggeris aku yang sedang memandang ke arah kami, atau lebih tepat memandang keletah si Huzair.

            “Huzair, duduk sini elok-elok. Nanti Huzair terjatuh,” ujarku. Huzair patuh. Duduknya dilabuhkan di sebelahku. Aku mengelap peluh yang terbit pada anak rambutnya. Kulitnya yang putih sudah kemerah-merahan.

            “Huzair nak air?” tanyaku. Huzair ni kena ditanya apa yang dia nak. Jarang-jarang  sangat dia nak bagitahu dia haus ke lapar ke kalau dah ralit sangat buat sesuatu.

            “Nak.” Huzair mengangguk.

            Aku terus mengeluarkan botol air dari dalam beg tangan aku. Sekarang ni jangan haraplah nak dapat beg tangan seindah dahulu. Adalah dua tiga mainan Huzair akan tersesat masuk dalam beg tangan aku. Belum kira lagi botol susu dia atau coklat dia yang dia tak habis makan kemudian dia bagi kepada aku. Kadang-kadang aku akan habiskan, tapi bila aku dah kenyang, aku akan sumbat ke dalam beg tangan aku. Lepas tu bila balik ke rumah, lupa nak keluarkan. Paling dahsyat, selepas seminggu barulah aku perasan ada coklat Huzair yang dah cair di dalam pembalutnya yang terselit dalam beg tangan aku. Mujurlah coklat yang cair itu tidak mencemarkan kesucian beg tangan aku. Kalau tidak satu kerja pula nak menghapuskan segala lemak coklat itu.

            Perlawanan tamat akhirnya. Sedangkan aku dan Huzair yang menonton ni pun berpeluh-peluh dek kehangatan cahaya matahari petang, inikan pula cikgu-cikgu dan anak-anak remaja yang bermain tu.

            Aku memimpin Huzair untuk turun ke bawah semula. Sebaik sahaja kaki memijak lantai gelanggang, terus sahaja dia berlari mendapatkan papanya. Haaa, pergilah, pergi. Pergilah berdukung dengan papa tu. Memang anak manja papa pun. Seperti biasa, aku ni baru tiga bulan kut dia kenal. Jangan mimpilah nak dia sayang aku lebih-lebih.

            Sebelum sempat aku mendekati mereka, tiba-tiba sahaja ada seorang wanita menghampiri Hazzar dengan senyum yang lebar pada bibirnya dan wanita itu menghulurkan sebotol air mineral kepada Hazzar. Kalau tidak salah aku, cikgu inilah cikgu baharu yang dikenalkan oleh Cikgu Mastura kepada aku sewaktu kami baru tiba awal pagi tadi. Cikgu Darya namanya kalau tidak silap aku, mengajar subjek Pendidikan Seni. Dan seingat aku, Cikgu Darya masih bujang. Hai, berani betul ya mengurat suami aku depan mata aku. Kalau dekat belakang aku entah macam manalah gayanya.

             “Tak sangka yang sir ni pandai main bola keranjang.” Amboi, puji melambung suami aku nampak?

           “Biasa-biasa saja, cikgu.” Hazzar merendah diri.

           Tidak pula Hazzar menyambut huluran Cikgu Darya itu. Dah beberapa detik dah aku lihat Cikgu Darya menghulurkan botol air itu.

           “Huzair nak boleh?” tutur Huzair lantas terus sahaja dia mengambil botol air yang dihulurkan oleh Cikgu Darya itu. Sumpah aku rasa hendak ketawa tatkala melihat air muka Cikgu Darya yang terkilan melihat botol air yang sudah selamat dipeluk Huzair. Ya Allah, anak siapalah yang pandai sangat tu?

            “Oh, yalah kan, sir kan coach team basketball sekolah!” Cikgu Darya seperti baru teringat akan hakikat yang satu itu.

            “Abang...” Nampak tak drama aku tu? Punyalah lembut suara aku yang keluar untuk menyeru Hazzar. Siap pegang lengan dia lagi. Kalau bukan sebab Cikgu Darya ni, alamatnya sampai tahun depan pun belum tentu lagi aku nak panggil Hazzar dengan panggilan abang.

            Aku hulur senyum semanis pavlova kepada Hazzar. Dia pun melayan drama aku, balas balik dengan senyum berlesung pipitnya.

            I’m proud of you.” Harap-harap Hazzar nampaklah apa yang sedang cuba aku lakukan sekarang ini.

            Bertambah lebar senyumnya, bertambah dalam lekuk lesung pipitnya, “I know.

            “Errr, saya pergi dululah.” Haaa, akhirnya terkeluar juga ayat yang aku tunggu sedari tadi dari mulut Cikgu Darya.

            “Okey, Cikgu Darya. Malam nanti kita jumpa lagi, ya?” ujarku dengan senyum palsu. Aku rasa Cikgu Darya pun perasan seikhlas mana senyuman aku tadi. Sempat pula tu dia jeling wajah aku dengan hujung matanya. Hei, panas betul rasa hati. Nasib baiklah kau tak pernah mengajar aku, senang sikit aku nak pedajal kau nanti!

            “Haaa, fikir apa tu?” Terus sahaja aku menoleh memandang Hazzar. Agaknya dia nampak kut tingkah aku yang sedang mengetap-ngetap bibir menahan geram.

            “Dia tu memang spesies gedik macam tu ke apa?” Aku menggetus.

            Hazzar ketawa, “Dengan suami awak ni saja.”

            Aku mencebik, “Nasib baik tangan tu tak sambut botol air yang dia bagi tadi. Kalau tak, saya balik Melaka naik bas malam ni.”

            “Ya Allah, cemburu sampai merah-merah muka. Kesiannya isteri saya ni.” Hazzar mengusap-usap pipi aku dengan ibu jarinya.

            Aku menepis tangannya lantas mata aku jegilkan, “Boleh tak jangan buat macam ni? Malu saya nak pandang cikgu-cikgu saya, faham tak?”

            “Nak malu apa? Kita bukannya buat dosa pun,” kata Hazzar.

            Aku mengetap bibir. Memanglah tidak berdosa, tapi aku malu dengan cikgu-cikgu aku.

            “Tu, awak tengok Cikgu Mastura dengan suami dia...” Aku berkalih pandang ke arah mereka yang dimaksudkan oleh Hazzar.

            “Dah dua puluh tahun kahwin pun masih lagi lapkan peluh suami dia, bagi botol air dekat suami dia...” kata Hazzar.

            “Untung suami dia...” ujar Hazzar lagi. Aku menjatuhkan pandangan memandang lantai gelanggang.

            “Saya ni mampu berangan sajalah nak isteri saya buatkan macam tu...” Aku terus memandang Hazzar lantas sapu tangan aku keluarkan dari dalam poket baju T muslimah yang aku pakai. Sapu tangan milik Huzair.

            “Kesian anak ummi ni, peluh-peluh tengok papa main bola keranjang kan?” Aku lap peluh pada wajah Huzair.

            Terkekek-kekek Huzair ketawa. Barangkali dia faham benar bahawasanya tindakan aku mengelap wajahnya itu adalah rentetan daripada perbualan aku dengan papanya.

            Hazzar mengukir senyum sambil merenung wajah aku.

            I love you.” Senafas dia menutur.

            Terus termati pergerakan tangan aku dibuatnya. Entah mengapa, kedua-dua belah pipi terasa hangat secara tiba-tiba.

            “Apa?” Aku menengadah.

            Semakin lebar senyum Hazzar. Senyum mengusik miliknya, “Saranghae.

            Aku ketawa, “Oh, sejak bila Sir Hazzar jadi cikgu Bahasa Korea ni?”

            “Sejak isteri dia balik dari Dublin dan setiap hari dia layan cerita Korea,” kata Hazzar.

            Aku tersenyum, “Jeonun oppareul johahaeyo.

            And what is that supposed to mean?

            Aku senyum penuh makna, “Teka.”

            “Melalui cara senyum tu, saya rasa awak cakap, saya handsome macam oppa dalam drama korea tu.”

            Meletus tawa aku setelah mendengar bicara Hazzar itu, “Ya Allah, perasannya!”

            “Eh? Tak betul ke?”

            “Mimpi sepuluh kali dululah, nak saya puji awak,” getusku.

            “Dah, jom.” Tiba-tiba sahaja tanganku diraih oleh Hazzar.

            “Nak pergi mana?”

            “Mandi pantai!” Huzair sudah menjerit penuh keterujaan.

            “Hah?!” Aku terkejut. Terlalu terkejut.

            “Jom, ummi!” Hazzar menarik tangan aku. Terpaksa jua aku melangkah mengikut langkah kakinya. Astaghfirullahalazim, dua orang makhluk Allah ni. Boleh ya mereka buat komplot belakang aku? Maknanya tak gunalah segala larangan mandi pantai yang aku bebelkan kepada Huzair tadi?
           

            MALAM itu, aktiviti barbeque dijalankan.

            Kaum lelaki sibuk memanggang dan membakar manakala kaum perempuan tukang makan. Maklumlah, yang perempuan sudah berusaha gigih menyediakan segala bahan untuk dimasak malam ini.

            “Haaa, dah sampai pun budak bertuah tu!” Suara Cikgu Mastura tiba-tiba sahaja menampar gegendang telinga aku. Mak ai! Kuat betul cikgu bercakap! Nak bercakap dalam kelas ke apa ni?

            Segera aku mengangkat muka dan memandang ke arah yang sama mata Cikgu Mastura sedang mengarah. Kedua-dua belah mataku terus sahaja membundar. Segera aku menundukkan semula wajah dan menarik tudung aku supaya wajahku dapat dilindungi. Dalam fikiran sudah terbayang semula segala jenayah yang Maysa pernah buat kepada aku semasa kami berada di tingkatan satu dahulu.

            Ya Tuhan! Harap-haraplah dia tidak kenal aku!

            Aku turunkan semula tudung untuk mengintai tingkah lelaki itu. Malang sungguh nasib aku apabila lelaki itu nampaknya sedang melangkah ke mari. Ah! Barangkali dia mahu berbicara dengan Cikgu Mastura yang duduk di sebelah kiriku ini.

            Wajah terus-terusan aku tundukkan. Telinga aku begitu peka mendengar isi perbualan dua orang hamba Allah itu.

            Dan tiba-tiba, “Haaa, Hakimi... Ini junior kamu masa sekolah dulu...” Cikgu Mastura pegang bahu aku.

            “Tak tahulah kamu sempat ke tidak dengan dia,” tokok Cikgu Mastura lagi.

            “Siapa ya?”

            Aku menghembus nafas berat. Terpaksa juga aku menengadah dan senyum kecil aku hulur.

            Berkerut-kerut keningnya memerhatikan wajah aku lantas tidak lama selepas itu, dia mengukir senyum.

            “Kawan Maysa, kan?”

            Aku menarik sengih serba salah, “Haah.”

            “Adiva, ya?” tanya Hakimi lagi.

            Aku mengangguk hendak tidak hendak.

            “Ya Allah, tak sangka memori ni masih elok lagi. Dah tua ni lain pula muka awak,” kata Hakimi.

            “Memanglah lain, nama pun dah tua.”

            “Awak ni dulu yang letak ucapan semoga berjaya untuk SPM dalam buku teks KOMSAS saya tu, kan?”

            Aku terkesima mendengar bicaranya. Huh! Pengsan mak! Cikgu-cikgu yang duduk di sekeliling aku sedang memerhatikan aku seperti ingin menelan.

            Untuk menghapuskan riak wajah pesalah pada wajahku, aku menghamburkan tawa, “Mana adalah!”

            Bersungguh-sungguh aku menggeleng.

            “Adalah. Ni, saya simpan lagi.”

            Aku tercengang apabila melihat tangannya yang bergerak untuk mengeluarkan dompet dari dalam poket seluarnya di bahagian belakang. Setelah apa yang dicarinya ditemui, terus sahaja dia menghulurkan kertas berlipat itu kepada aku. Kertas berwarna merah siap ber-laminate lagi.

            Terus sahaja aku membaca tulisan yang tertera pada kertas itu.

            Sah! Memang kertas yang Maysa guna untuk pedajal aku.

            “Oh, yang ini!” Aku berpura-pura seperti teringat akan sesuatu.

            “Ni memang saya yang tulis untuk bagi dekat kakak angkat saya. Tapi disebabkan kertas ni terlepas ke tangan orang yang salah, maka sampainya pun ke orang yang salahlah.” Aku ukir senyum nipis.

            “Maksud?”

            “Kita cakap dekat tempat lain boleh tak?” pintaku. Sesungguhnya aku betul-betul tidak selesa apabila perbualan kami boleh didengari oleh orang lain.

            “Okey.”

            Segera aku bangkit daripada dudukku dan menapak menjauhi tempat mereka yang lain berkumpul. Aku memilih tempat yang bercahaya untuk kami berdua berbual.

            So, apa yang awak nak cakap?”

            “Kenapa simpan lagi kertas ni?” tanyaku.

            Hakimi tersenyum, “I don’t know. It seems to be special to me. Setiap kali saya rasa putus asa, ucapan ini akan menjadi penawar untuk saya, membuatkan saya kembali bersemangat.” 

            Aku melepaskan keluh perlahan, “Maysa yang tulis ni. Dia guna nama saya. Saya minta maaf sebab dah wujudkan salah faham ni,” tuturku.

            And why would she do that?” soal Hakimi.

            Aku memejamkan mata seketika, “I know that what I am about to tell you seems to be ridiculous, but this is the truth. Maysa suka awak. Tapi masalahnya, cara awak layan saya dulu buat dia fikir yang awak sukakan saya. Jadi dia guna nama saya, instead of nama dia untuk beri ucapan kepada awak.”

            Wow.” Hakimi seperti terkejut mendengar cerita aku.

            “Drama budak perempuan memang macam tu. Saya minta maaf.”

            “Saya tertanya-tanya sekarang ni, adakah semangat saya muncul semula disebabkan nama pengirim yang terdapat pada kertas itu, atau kata-katanya?” kata Hakimi dengan renungan yang terpaku pada wajahku.

            “Pasti sebab kata-kata tu,” ujarku.

            “Tapi kenapa saya rasa, nama pengirim tu puncanya?” soal Hakimi.

            Aku terdiam.

            “Awak cikgu di sekolah?” soalku, sengaja ingin mengubah topik perbualan.

            Hakimi mengangguk, “Awak? Buat apa?”

            “Teman suami sambil-sambil bawa anak jalan-jalan,” jawabku.

            “Suami? Siapa?” tanya Hakimi.

            Sir Hazzar.”

            Wow, you’re married and you have a child? Dah berapa tahun kahwin?” soal Hakimi.

            “Enam.”

            Kening Hakimi bergerak. Aku nampak jari-jemarinya bergerak seolah-olah dia sedang membuat pengiraan.

            Actually saya kahwin sebelum SPM lagi and Sir Hazzar is actually my cousin.

            Hakimi ketawa, “I thought you guys were dating or something.

            Aku ketawa kecil, “Nonsense.

            Then why marry him?” soal Hakimi.  

            Aku tersenyap. Sumpah aku tidak pasti apa jawapan yang tepat buat soalan ini.

            “Errr...” Terkulat-kulat aku ingin menjawab.

            Because I want to be with him...” Aku menghela nafas seketika. Keyakinan dalam diri aku tebalkan.

            I want to stay beside him through his ups and downs... I want to learn how love felt like by being with him till my last breath. I want to discover new things in my life ahead with him by my side.

            Hmmm. That sounds sincere. And sweet too,” kata Hakimi.

            Aku tersenyum.

            May Allah bless your marriage.

            Thank you,” ucapku.

            There you are, ummi.” Suara kecil yang menyapa itu membuatkan aku terus berpaling. Eh, eh budak ni. Merata dia berjalan cari ummi dia? Tangan kirinya terus aku capai dan aku genggam erat.

            Well, hello. Who is this supposed to be?” soal Hakimi. Dia sudah merendahkan tubuhnya dan menggosok rambut Huzair.

            Huzair menghulur tangan untuk bersalaman dengan Hakimi.

            “Huzair Halawah, anak ummi,” kata Huzair bernada yakin. Rajin benar dia memperkenalkan dirinya sendiri.

             “Ya ke anak ummi? Bukan anak papa ke?” ujarku.

           Huzair mengukir sengih, “Nak manja-manja anak ummi, nak main-main anak papa,” kata Huzair.

            Meletus tawa Hakimi dibuatnya, “Such an adorable son you have over there, Zaira. I’m so jealous of you. Muda-muda dah ada anak. Saya ni calon nak dibuat isteri pun tak nampak bayang lagi,” kata Hakimi.

            “Boleh cuba Maysa,” ujarku.

            She still likes me?

            The last time I talk to her which was two weeks ago, yes, she still likes you. You’re her first high school crush. There’s no way she could just dump you like that.

            “Dia tengah buat apa sekarang?”

            “Baru dapat kerja tiga minggu lepas. Sekarang tengah gigih bekerja, tak terfikir nak cari kekasih lagi. Bolehlah kalau nak masuk line. Nanti saya bagi nombor telefon.”

            Hakimi mengukir senyum mendengar tawaran aku.

            “Boleh juga tu. Terima kasih.”

            Aku mengangguk.

            “Saya ke sana dulu. Tolong kaum Adam yang lain.”

            “Sekejap. Awak mengajar apa?” soalku.

            “Cikgu Add Math,” ujarnya seraya dia menapak menjauhiku.

            Oh, patutlah. Sir Ismail dah pencen. Jadi Hakimi lah penggantinya.


             “SIAPA tu?” Baru sahaja nak terlelap, telinga disapa dengan soalan daripada Hazzar.

           Aku menoleh ke kanan, “Apa?” soalku.

           “Hakimi.”

            “Oh, senior dulu, masa saya tingkatan satu, dia tingkatan lima.”

            “Nampak macam rapat.”

            Crush Maysa tu. Memanglah rapat.”

            “Ya ke?” Nada suara Hazzar kedengaran seperti dia benar-benar meragui kejujuran aku.

            Aku tersengih, “Taklah, dulu rapat sebab satu kelab dengan dia. Saya AJK tingkatan satudulu. Dia pula masa tu pengerusi. And dia memang crush Maysa pun.”

            “Dia simpan lagi kertas tu, ya?”

            Kening aku sudah berkerut. Segera aku iringkan tubuh ke sebelah kanan, mataku sibuk menekuni setiap lekuk pada wajahnya.

            “Hazzar...” seruku perlahan. Tangan kiri sudah naik menyentuh wajahnya. Pipinya aku usap dengan ibu jariku.

            “Hmmm...” Dia mengerling wajahku sekilas.

            “Awak cemburu,” ujarku.

            “Ya, saya.”

            Aku ketawa kecil, “Don’t be. Believe me.

            Hazzar mengiringkan tubuhnya menghadap aku kini. Tanganku yang berada pada pipinya disentuh olehnya. Dia merenung mataku lantas menutur, “How can I when I don’t know who am I in your life and where is my place in your heart?

            Aku menghela nafas dalam, “Lima tahun berpisah dengan awak, dalam keadaan saya tidak tahu apa hala tuju hubungan kita pun saya masih menjaga hati saya dan diri saya kerana saya sedar yang saya bersuami. Dan kini apabila saya sudah mengetahui apa hala tuju hubungan ini, adakah awak rasa yang saya akan membelakangkan awak?” soalku.

            I just don’t feel confident.

            Why?” soalku, lembut.

            “Awak tak yakin dengan saya?”  tanya aku.

            No!” Laju sahaja Hazzar menggeleng.

            Then?

            I don’t think that you will ever love me.

            Hati aku tiba-tiba terasa menjauh. Aku tarik tangan aku daripada terus memegang pipinya. Sampai hati dia kata begitu?

            “Enam tahun awak bertahan, kemudian baru tiga bulan kita sedang berusaha dan kini awak mahu mengalah?” tanyaku.

            “Zaira...” Dia menutur perlahan. Tangannya menjangkau untuk mencapai tanganku namun pantas sahaja aku melarikan tangan aku ke belakang tubuh.

            “Saya tak tahu bagaimana kita hendak bertahan sehingga ke helaan nafas yang terakhir jika awak mengalah secepat ini.” Segera aku bangkit daripada pembaringanku dan aku mengorak langkah mendekati pintu gelangsar dan menolak pintu itu. Aku melangkah keluar ke ruang balkoni. Angin malam terasa menampar-nampar lembut tubuhku.

            Bintang yang berserakan di langit aku pandang. Huh... Adakah aku yang bersalah dalam hal ini? Adakah mungkin kerana perbezaan usia yang begitu jauh antara kami yang membuatkan Hazzar tidak rasa bahawa aku akan mencintainya? Adakah dia lemas dengan aku yang terlalu muda? Adakah dia lemas dengan sikap aku yang barangkali tidak matang menurut pandangannya?

            Tiba-tiba sahaja ada tangan yang datang dari arah belakang menyentuh dahiku kemudian tidak semena-mena, sepasang tangan itu bergerak mengikat simpul rambutku. Usai, sehelai kain dapat aku rasakan jatuh pada kepalaku kemudian dililit ke belakang.

            Selesai segalanya, sepasang tangan itu meliar pula melingkari pinggangku kemudian tubuhku ditarik merapat dengan tubuhnya. Dapat aku rasakan hangat tubuhnya menyentuh bahagian belakang tubuhku. Pelukannya pada tubuhku dikemaskan lagi seraya dia melabuhkan dagunya pada bahuku. Aku kaku dengan perasaan yang sudah lama terbuai dek tersentuh dengan usahanya. Teringat pesan yang selalu dia titipkan kepadaku, walaupun kita yakin yang orang takkan nampak aurat kita, tapi berwaspadalah untuk worst case. Setiap kali keluar rumah, atau berada di rumah yang bukan mahram kita, tutuplah aurat. 

            I love you.” Gemersik suaranya menampar gegendang telingaku.

            Just love you...” Dia menutur lagi.

            So much.” Dan lagi.

            Aku diam. Sesungguhnya untuk membalas, tidak mungkin sama sekali. Kerana pada ketika ini, aku masih belum pasti bagaimana sebenarnya yang dimaksudkan dengan cinta. Dan mungkin, aku terlalu takut untuk dikecewakan oleh cinta. Seperti apa yang pernah terjadi kepada Kak Hayfa dulu.

            Tangan aku bergerak menyentuh tangannya yang sedang memeluk tubuhku. Wajah aku palingkan ke kanan. Sepantas itu juga, kucupan hangatnya hinggap pada pipiku membuatkan jiwa aku semakin terbuai dengan tingkahnya.

            “Saya cuma tertanya-tanya, with this age gap... Will you ever love me?” ujar Hazzar. Aku senyap lagi.

            “Muka saya ni dah mula ada kedutan halus tau,” kata Hazzar.

            Aku tersenyum mendengar tuturnya.

            “Rambut pun tak lama lagi nak beruban dah.”

            “Asal awak yang tua dulu dan saya kemudian, then it’s okay for me.

            Aku tahu Hazzar sedang tersenyum kini hanya dengan mendengar cara dia menghembus nafas.

            “Awak tak pernah ragu?” tanya Hazzar.

            “Apa?”

            “Tentang cinta saya?”

            Aku terdiam kemudian aku menyoal. “Awak mahu saya ragu?”

            “Tidak, sayang.”

            “Jadi, kenapa tanya?”

            Hazzar menghela nafas dalam, kedengaran berat pada telingaku.

            “Jiwa yang masih muda, sentiasa mahukan sebab atas sesuatu perkara. Masih cuba mencari kebenaran. Saya fikir awak juga begitu.”

            “Buat apa mahu mencari kebenaran jika saya sudah nampak semuanya terhidang di hadapan mata saya?” tanyaku.

            “Apa yang awak nampak?”

            “Betapa jujurnya awak mencintai saya,” tuturku.

            “Bagaimana?”

            “Awak menjaga diri saya dan awak menjaga diri awak, for a better us.

            Hazzar diam selepas itu. Hanya nafasnya yang kedengaran menderu tenang.

            “Saya dah tahu kenapa saya tak pernah nampak perasaan awak.”

            Uhuh?

            Yes, sebab saya tak pernah cuba faham awak, selami hati awak, tak pernah cuba pandang awak dengan pandangan yang jernih. Like what you’ve said before, you love me from a long time ago.

            Aku menoleh ke kanan lagi. Sekali lagi, Hazzar mengucup pipiku. Entah mengapa malam ini aku boleh mengizinkan dia melekapkan bibirnya pada kulitku. Sebelum ini, jangan mimpilah. Setakat nak sentuh dengan tangan aku bagilah. Tapi dengan bibir, memang aku tolak mentah-mentah.

            You know...” tuturku lagi.

            What?” soalnya.

            I know why you have no girlfriend with the letter Z.

            Hazzar ketawa kecil, “Of course. You’re my only girlfriend with the letter Z.

            Aku tersenyum.

            “Nak tahu?”

            “Apa dia?”

            Adiva, my first love. Zaira, my last love.

            “Adiva Zaira?” tanyaku. Sengaja ingin menduga tahap kekreatifannya.

            My first and last wife,” ucapnya.

            Aku sembunyi senyum.

            “Hazzar...”

            Yes?

            I like you was what I said to you this evening,” kataku.

            I like you too.

            You love me.” Aku memperbetulkan.

            That is undeniable.” Hazzar mengeyakan.

            I will tell you.

            What?

            The time that I fall for you, I will tell you...” kataku.

            Hazzar senyap sahaja.

            Aku meleraikan tangannya yang sedang memeluk tubuhku seraya aku berpusing menghadapnya. Wajahnya aku apit dengan kedua-dua belah tanganku lantas mataku merenung tepat ke dalam matanya.

            Don’t worry, you don’t have to wait until you’re 35. It’s near already,” ujarku dengan senyuman manis.

            Hazzar mengukir senyum. Sekali lagi tangannya melingkari pinggangku lantas dia menarik aku rapat ke tubuhnya.

            Dia merendahkan kepalanya sebelum bibirnya hinggap pada dahiku.

            Bibirnya menjauh sejenak.

            My wife, Zaira...” bisiknya perlahan sebelum dia mengucup ubun-ubunku pula. Kali ini kucupannya singgah lebih lama. Usai, tubuhku ditarik pula ke dalam pelukannya.

            Aku terpana. Mengapa lain benar tingkah Hazzar pada malam ini?

            Lambat-lambat tanganku bergerak memeluk tubuhnya. Entah mengapa, aku turut memeluknya erat bagai aku tidak ingin melepaskan tubuhnya pergi. Berat benar terasa hati pada malam ini. Entah mengapa agaknya.


            “SAYANG.”

            Aku memandang Hazzar yang baru sahaja turun dari atas.

            “Hari ni awak jemput Huzair boleh?”

            “Kenapa?” soalku sambil meletakkan mangkuk berisi bihun goreng di atas meja. Aku berlalu ke dapur pula untuk mengambil muk berisi minuman milo untuk Huzair.

            “Saya ada meeting sampai pukul lima. Lepas tu ada training basketball budak-budak ni sampai pukul tujuh,” tutur Hazzar sambil mengemaskan kepala tali lehernya. Sementara Hazzar menutur, aku menyendukkan bihun goreng ke dalam pinggan untuknya. 

            “Oh, okey. Nanti mesti dia bising lagi sebab ummi dia jemput lambat,” ujarku. Hazzar ketawa kecil.

            Dinner nak makan apa?” tanyaku. Aku sudah berpusing menghadapnya.

            Anything will do.” Hazzar memang tidak cerewet dalam bab makanan. Tak pernah pun merungut aku masak kurang masin atau kurang pedas. Katanya, makan ni bukan sebab nak sedap saja. Makan untuk meneruskan hidup semata-mata, bukan untuk memenuhi kehendak nafsu. Katanya juga, bersyukur kita ni masih boleh makan serba-serbi cukup semua kumpulan makanan. Ramai lagi yang tidak seberuntung kita.

            “Okey, saya siapkan Huzair sekejap.”

            Hazzar mengangguk lantas dia melabuh duduk di atas kerusi untuk bersarapan.

            Nampak tak betapa kecohnya pagi aku kalau dah dua-dua bekerja begini? Hazzar perlu keluar lebih awal berbanding aku. Aku perlu menyiapkan serba-serbi untuk dia, kemudian menyiapkan Huzair seterusnya barulah aku ada masa untuk pandang diri aku.

            “Zaira, saya nak pergi dah.”

            “Sekejap!” Terus aku dukung Huzair yang baru selesai berpakaian untuk ke tingkat bawah bersama-samaku. Huzair masih buruk mood-nya. Monday blues barangkali. Sewaktu aku dukung dia pun, melepek sahaja kepala dia melekat pada bahuku.

            Aku mendekati Hazzar yang berada di luar rumah lantas tangannya aku salam. Dah jadi rutin dah sejak Huzair membebel dulu.

            “Salam papa, Huzair,” ujarku apabila aku lihat Huzair tidak bergerak langsung untuk memandang Hazzar.

            Huzair memandang Hazzar sekilas sebelum dia sembunyikan wajahnya pada bahuku.

            “Tak nak...” Dia gosok matanya beberapa kali. Bibirnya masam mencuka.

            “Anak papa ni kenapa bad mood ni?”

            “Merajuklah papa tak boleh jemput dia hari ni,” bisikku perlahan.

            “Ohhh...” Hazzar membuat gerak mulut.

            Hazzar mendekatkan wajahnya dengan Huzair lantas pipi Huzair dikucup, “Sayang papa...” bisiknya perlahan.

            Huzair palingkan wajahnya ke sebelah kiri pula.

            “Marah betul,” bisik Hazzar.

            “Tak apa, saya pujuk nanti. Awak pergilah.”

            Hazzar mendekati aku sebelum tubuhku ditarik ke dalam pelukannya. Terkejut aku. Tak pernah-pernah dia buat macam ni pagi-pagi.

            Why?” soalku.

            I miss you.

            Spontan aku tersenyum.

            “Dah ada depan mata pun rindu?” tanyaku.

            Yeah... Take care, Zaira.” Hazzar terus meleraikan pelukannya. Dia sudah menapak mendapatkan motosikalnya.

            “Hazzar,” ujarku dengan mata yang terfokus pada wajahnya.

            “Ya, Zaira?”

            You left something,” tuturku sambil menapak mendekatinya.

            Kening Hazzar berkerut, “What?

            This.” Aku mengucup dagunya sekali lalu.

            Hazzar pandang aku dengan riak wajah terkejut.

            What was that?” soal Hazzar.

            Your wife’s lips.” Aku mengukir senyum manja sebelum berlalu pergi.

            Drive carefully, Hazzar.” Sempat aku berpesan sebelum aku menutup pintu rumah.


            BERPELUH-PELUH aku berlari untuk mendapatkan kereta. Oh-hoi! Macam mana aku boleh terlupa yang aku kena jemput Huzair hari ni? Merajuk lagilah dia nampaknya!

            Sepatutnya aku kena keluar dari klinik tu pukul 4.15 tadi untuk jemput dia. Tak adalah jalan jammed bagai nak gila macam sekarang ni. Tak fasal-fasal perjalanan yang sepatutnya memakan masa sepuluh minit dah jadi 30 minit!

            Pukul enam petang barulah aku terpacak di hadapan taska. Terkocoh-kocoh aku keluar dari kereta. Segera aku melangkah ke rumah yang terletak di sebelah taska dan menekan loceng rumah tersebut. Langsir yang menutupi pintu gelangsar dapat aku lihat diselak dari dalam. Aku melambai sedikit.

            Tidak lama selepas itu, Kak Ruhayna keluar dari rumah dengan tangan yang memimpin tangan Huzair. Aku lihat wajah Huzair masam mencuka. Maafkan ummi, sayang.

            “Merajuk,” kata Kak Ruhayna.

            Aku menarik sengih.

            “Dekat klinik tadi tak ada kawan yang selalu back-up tu. Dia demam pula. Tak menang tangan saya nak urus semuanya sendiri sampaikan boleh terlupa nak jemput Huzair,” kataku. Terus sahaja aku menghulurkan tangan supaya Huzair menyambutnya.

            Melayan rajuknya, Huzair tidak menyambut tangan aku. Dia bersalaman dengan Kak Ruhayna sebelum selamba dia menapak ke kereta dan masuk ke dalam kereta aku. Eh, kereta Hazzar. Aku belum mampu lagi nak beli kereta sendiri.

            “Terima kasih, kak. Saya minta diri dulu,” ucapku lantas aku turut bersalaman dengan Kak Ruhayna.

            Masuk sahaja ke dalam kereta, aku pandang si kecil yang panjang muncungnya.

            Tak mahu mengganggu dia yang sedang merajuk, aku terus memulakan pemanduan. Si kecil ni kalau dah merajuk, susah betul nak pujuk.

            “Huzair...” Perlahan aku menutur namanya.

            Dia tak layan aku.

            “Kita pergi pasar malam nak?” tanyaku.

            Okey, mata Huzair dah mula menjeling wajah aku.

            “Ummi ingat nak beli apam balik yang nipis tu.” Disebabkan aku tahu yang Huzair memang suka apam balik nipis tu, maka aku goda dia.

            “Ummi...” tutur Huzair. Dia dah memandang ke hadapan semula.

            “Ya, sayang?” sahutku.

            “Kuku Huzair dah panjang.”

            “Eh, ya ke? Ummi tengok pagi tadi pendek aje?” ujarku. Selama tiga bulan aku jaga Huzair, aku tak pernah terlepas pandang bab kuku dan rambut dia. Seminggu sekali aku potong kuku dia, setiap hari Jumaat. Rambut dia pun sebulan sekali Hazzar bawa dia ke kedai untuk dipotong rambutnya.

            “Malam ni nak tidur dengan ummi,” kata Huzair pula. Oh, si kecil ni rindukan aku gamaknya. Patutlah pagi tadi nak melekat sahaja dengan aku. Patutlah juga terasa benar dia apabila aku lambat menjemputnya hari ini.

            “Memanglah hari-hari tidur dengan ummi.” Biasalah, Huzair si benteng yang duduk di tengah-tengah antara aku dengan Hazzar.

            “Tak nak. Malam ni nak tidur dengan ummi seorang saja.”

            “Okey, nanti Huzair pujuk papa, tau?” kataku.

            Huzair diam sahaja.

            “Ummi minta maaf, sayang sebab jemput lambat tadi. Ummi sibuk sangat buat kerja tadi. Uncle Leon pula demam sampai ummi tak teringat nak jemput Huzair. Ummi minta maaf...” ucapku.

            “Tak apa, Huzair sayang ummi,” kata Huzair. Kemudian tidak semena-mena dia mencapai tangan kiriku lalu mengucupnya. Sebak terasa hati. Anak ini tidak ada pertalian darah langsung dengan aku, tetapi dia tetap menghormati aku sebagai ibunya.


            KELAM kabut aku menyeberang jalan apabila ternampak kakak yang menjual biskut tadi melambai-lambai kepada aku. Huzair sudah aku pastikan selamat masuk ke dalam kereta  terlebih dahulu.

            Oh, aku terlupa ambil duit baki rupa-rupanya. Manalah aku nak perasan. Ramai sangat orang tadi dengan Huzair yang dah mula meragam pula.

            Selepas duit baki bertukar tangan dan ucapan terima kasih dihulur, segera aku melihat keadaan trafik sebelum melintas jalan. Beberapa orang lain turut sama melintas.

            Tidak semena-mena selepas itu, aku dapat mendengar bunyi jeritan yang datang dari arah belakang dan sekelip mata sahaja tubuhku terasa seperti dirempuh oleh suatu beban yang amat berat. Tubuhku terhempas di atas jalan tar.

            Nafas terasa berat dan payah untuk dihela. Segenap tubuh terasa bagai tidak mampu untuk digerakkan. Pandanganku mulai kabur.

            “Hu... Huzair...” bisikku perlahan sebelum duniaku terasa gelap.

Nota kaki: Okey, Zaira meninggal, :P. Mohon percaya. >_< *hewhewhew (gelak jahat dalam hati)* Terima kasih sudi baca, :). Kalau tak ada next entry minggu depan maknanya Zaira meninggal tau. *sila fikir logik macam mana Zaira tulis cerita ni kalau dia dah meninggal. mana tahu ada roh yang tak tenang*

3 comments:

  1. Haissh...kalau zaira meninggal xde citer dah

    ReplyDelete
  2. jgnlah zaira meninggal baru nak baikkan....

    ReplyDelete
  3. TAKKAN TAMAT GITU JE. ANDAI ZAIRA MENINGGAL, MCMN CERITA NI AKAN TERBINA SBB PENCERITA MENINGGAL, RASA TAK LOGIK PULA.

    ReplyDelete